Operasi pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport yang mengalami kecelakaan di pegunungan Kabupaten Maros melibatkan Prajurit Petarung Korps Marinir TNI Angkatan Laut dari Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) VI Makassar. Insiden ini terjadi pada hari Senin, 19 Januari 2026, setelah pesawat yang terbang dari Yogyakarta menuju Makassar hilang kontak di kawasan pegunungan.
Tim SAR, yang terdiri dari prajurit marinir dan personel dari TNI, Polri, serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), segera merespons laporan kehilangan komunikasi dengan pesawat tersebut. Fokus pencarian diarahkan ke sektor darat yang memiliki kontur ekstrem dan akses yang terbatas. Pencarian ini dilakukan dengan melakukan penyisiran intensif di hutan dan jalur pegunungan yang terjal.
Meskipun kondisi cuaca tidak menentu dan jalur yang licin serta vegetasi yang lebat menjadi tantangan, tim SAR memanfaatkan peralatan yang canggih dan kemampuan navigasi mereka untuk menemukan lokasi pesawat dan para penumpangnya. Operasi ini merupakan usaha bersama yang melibatkan berbagai instansi terkait, menunjukkan sinergi dalam upaya penanganan situasi darurat. Tim berharap dapat segera menemukan titik lokasi jatuhnya pesawat untuk melakukan evakuasi bagi korban yang mungkin masih terjebak di dalamnya.
