MANGGARAI – Pada Kamis, 4 Desember 2025, Kantor Camat Reok menjadi lokasi pertemuan penting yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas krisis pembelian bahan bakar minyak (BBM) di wilayah tersebut. Antrean panjang dan harga Pertalite yang dianggap tidak wajar telah menjadi keluhan utama masyarakat, memaksa mereka untuk mencari solusi yang efektif.
Rapat ini dihadiri oleh Bati Tuud Koramil 1612-02/Reok, Peltu Lasiman, yang mewakili jajaran Babinsa. Ia hadir untuk mendengarkan langsung keluhan masyarakat dan berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan serta pihak terkait lainnya. Kegiatan ini merupakan respon cepat terhadap keresahan warga yang mengeluhkan antrean membludak di SPBU dan disparitas harga BBM yang semakin melebar.
Dandim 1612/Manggarai, Letkol Inf Amos Comenius Silaban, S.H., M.M., menekankan pentingnya peran Babinsa dalam penanganan masalah ini. Dalam sesi diskusi, Peltu Lasiman menegaskan perlunya pengaturan yang lebih baik antara pemerintah, SPBU, dan penjual eceran. “Kita harus memastikan pengawasan distribusi BBM lebih ketat untuk menghindari praktik penimbunan dan permainan harga yang merugikan masyarakat,” ujarnya.
Melalui rapat ini, diharapkan akan tercipta kesepakatan yang progresif untuk segera menangani masalah antrean dan harga BBM. Lasiman berharap bahwa, dengan kerjasama semua pihak, situasi dapat kembali kondusif sehingga warga bisa mendapatkan BBM dengan harga yang wajar dan pelayanan kembali normal. Rapat ini menunjukkan komitmen semua stakeholders untuk berkontribusi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat di Kecamatan Reok.
